Dihadapkan Pilihan Menjadi Guru atau Dokter

Tulisan ini dimulai dari sinis yang dilontarkan Ayah terhadap saya setelah pulang mengabdi di GUIM (Gerakan UI Mengajar) untuk menjadi guru di sana. Bunda sangat antusias ketika mendengarkan cerita lika-liku perjalanan GUIM mulai dari tinggal di keluarga petani yang hangat serta proses mengajar kelas 6 yang bukan main penuh dengan kisah-kisah menghibur dan juga haru hingga berada di sekeliling anak beragam fakultas di titik Kwarakan Temanggung, maka iapun juga memasukan topik pembicaraan ini ke dalam obrolan keluarga, kemudian di tengah obrolan santai keluarga tiba-tiba muncul ungkapan dari Ayah saya, “Kamu mau jadi dokter atau jadi guru?” Kalimat menarik yang dilontarkan Ayah ini tidaklah perlu saya gubris langsung, tapi akan saya jawab saja di sini lewat tulisan tentu supaya menghindari clash.

Kata dokter berasal dari kata docere yang artinya “to teach”, yaitu mengajari, karena pada dulu kala dokter diangap menjadi sumber pengetahuan, jadi tak heran teman saya pernah mengisahkan pengalaman Ayahnya menjadi seorang dokter yang sedang bertugas di pelosok negeri ketika bertemu dengan petani yang bertanya kepadanya, “Pak Dokter, ini tanaman saya kurang subur caranya supaya subur bagaimana ya?” Ucapnya dengan serius seolah-olah ia tak tahu bahwa dokter sekarang sudah melekat dengan keprofesiannya yaitu hanya dan tidak lain dokter sebagai pengobat penyakit, bukan tokoh pembawa kabar baik sekaligus mengerti segala hal melalui pengetahuan yang dimilikinya termasuk mengobati penyakit.

Begitu pula salah apabila kita berpikir guru hanya sebatas lingkup profesionalitas. Guru sebagai profesi adalah hal yang baru terjadi di akhir ini pada masa era industri dimana pendidikan menjadi salah satu penunjang ketersediaan kaum pekerja, pendidikan serta sekelumit proses belajar-mengajar di dalamnya sudah tidak lagi murni menjadi wadah pengembangan intelektual juga moralitas umat manusia seperti dahulu, jadi wajar saja apabila lulusan zaman sekarang tidak menghasilkan pelajar dengan kualitas intelektual (apalagi moral) yang mumpuni karena distorsi dari era perkembangan ekonomi kapitalis-industri yang menjadikan proses ini tidak lagi natural. Jadi apa yang saya jalani di GUIM bukan bentuk menjadi seorang guru profesional, melainkan sebagai orang yang ingin mengembangkan segala bentuk kemanusiaan melalui proses belajar mengajar, menjadi guru yang kematangan sikapnya bisa “diguguh dan ditiru”, serta menjadi docere yang berarti “mengajari” apa-apa yang diketahui secara bijak.

Mengajar menurut saya merupakan bentuk refleksi diri. Di proses tersebut, kita dituntut untuk mengeluarkan sifat-sifat yang sebelumnya tidak muncul di permukaan. Rasa sabar, ketulusan, kasih, juga pengorbanan akan diuji. Siapapun yang mencapai tahap intelektual-spiritual yang tinggi, pada akhirnya akan sadar bahwa mengajar merupakan wadah untuk penyempurnaan kematangan sifat dan intelektual yang ingin dicapai. Ambil contoh Plato sang filsuf aliran idealis mendirikan Akademia yang menjadi wadah refleksi melalui dialektika (dialog) dengan para muridnya hingga sampailah pada kesempurnaan ide-ide dan karya besarnya. Bahkan Gautama “Buddha” setelah pencapaian transendennya pun masih menyempatkan berkeliling India untuk mengajari pengetahuan yang ia peroleh.

Masih dalam konteks mengajar sebagai refleksi diri yang saya sebutkan, cerminan dari tingkah laku, potensi, serta kekhasan guru juga akan muncul dalam proses mengajar. Mengenai ini ada anekdot fisikawan yang unik bernama Wolfgang Pauli (penerima nobel Fisika), di mana ia sebagai mahasiswa kelewat jenius menyatakan bahwa ia tidak akan mendatangi kuliah karena baginya semua dosen adalah sama buruknya. Kemudian saat ia mendatangi Einstein sebagai dosen tamu (saat itu Einstein belum populer), pada titik itu juga ia menarik ucapannya dan memutuskan bahwa Einstein adalah orang yang berkapabilitas dan mampu dijadikan teladan dalam hal karakter. Dari situ murid sungguh mengetahui secara subjektif dan emosional bagaimana kualitas seorang pengajar, apakah ia mampu atau tidak, berkarakter atau tidak, tulus atau tidak tulus dalam mengajar.

GUIM sejalan dengan visi kehidupan membawa tujuan pemerataan pendidikan ke pelosok negeri. Saya meyakini bahwa pendidikan merata yang akan memperbaiki nasib kesetaraan manusia di masa depan. Saya sempat ragu ketika mengikuti GUIM lantas kesempatan saya dalam menuntut ilmu di masa liburan tidak akan saya dapat, padahal saya selalu membayang-bayangkan masa depan saya setidaknya akan ada kontribusi saintifik yang bisa saya beri untuk kemajuan ilmu pengetahuan(science) di kemudian hari. Tapi tetap prinsip saya menyatakan bahwa mengajar adalah jalan yang tepat, karena kemajuan science tidak serta-merta akan membawa manusia ke peradaban yang adil dan menunjang kesetaraan. Orang-orang lupa bahwa science berkali-kali menjadi alat yang menjerumuskan umat manusia seperti Archimedes yang menggunakan Matematika untuk membunuh orang Roma, Galileo menggunakan ilmunya untuk memperbaiki Artileri Tuscani Sang Grand Duke yang haus kekuasaan dengan membunuh para lawan, bahkan ahli fisika kuantum beserta jajarannya (ini lebih ambisius lagi) menggunakannya dalam meluluh-lantahkan manusia melalui proyek Manhattannya ditutup oleh luncuran bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Lantas di sini perlu lagi dikutip slogan yang berbunyi “The advance of science is inevitable.” Yang berarti, sungguh, kemajuan ilmu pengetahuan tidak dapat dimungkiri, Einstein yang menyadari kemajuan fisika kuantum telah melebihi proses dan tingkat kematangan moralitas manusia di abad ke-20, maka bersamaan dengan Russel, teman ahli matematikanya juga peraih nobel sekaligus ia seorang filsuf, bekerja-sama menggoreskan pena yang kemudian dari situ lahir Manifesto Russel-Einstein berisi seruan atas perdamaian dunia. Sejak dari situ para ilmuan menggeser fokusnya pada hal yang menyangkut kemanusiaan secara utuh sehingga bersamaan ini pula peringatan bagi orang yang berpikir ilmu pengetahuan merupakan ujung tombak dari kemanusiaan perlu dipertanyakan kembali.

Satu hal lain di GUIM yang patut disyukuri dan juga menjadi alasan saya mengapa ikut adalah sifatnya yang berupa kegiatan interfakultas. Saya masih ingat bagaimana waktu malam harusnya sudah pulang tapi ke-rebel-an guru Hima dan saya masih betah di rumah Pak Kadus mengerjakan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), diselipi bincang-bincang soal ilmu sosiologi dalam ranah humaniora. Saya minta dia terangkan sekilas mengenai studi sosiologi kontemporer yang di situ saya dikenalkan beberapa tokoh dan gagasan seperti Michel Focault terkait relasi kuasa-pengetahuan dan juga Jacquest Derrida. Kemudian juga waktu mengerjakan lagi-lagi RPP di hostfam Nabila yang sering disebut-sebut sebagai rumah “The Rich Kwarakan” membuat saya nyaman dan berakhir dengan perbincangan mengenai psikoanalisis Freud, juga gagasannya mengenai letak id, ego, super ego dalam diri manusia dengan penjelasan secara gamblang serta aliran psikologi behavioristik, tentunya ditemani secangkir kopi jahe panas suguhan tuan rumah “The Rich Kwarakan”.

Tak lupa juga Ojan, anak sosiologi pecinta sastra penyayang wanita, yang selalu mengingatkan kepada kita semua supaya tidak terjerumus dari selubung konstruksi sosial yang kadang luput dari kesadaran masyarakat — ini mengingatkan saya kadang lupa sikat gigi bukanlah masalah besar guys. Lalu rutinitas home visit membuat saya minimal mengunjungi dua rumah sekaligus yang capenya masyaallah namun alhamdulillah selalu ditemani panitia. Waktu itu sempat juga home visit kehujanan akhirnya neduh di rumah tinggal saya, karena kejebak hujan akhirnya berujung pada pencerahan saya dari Mas Farid terhadap biomedis serta keterkaitan cabang ilmu Fisika-Kedokteran. Dan juga Ka Cien Sang Mapres yang suka sharing beberapa konsep ajaran Buddha dalam menyikapi kehidupan sehari-hari lewat deepsharing dari CED yang sumpah ini berguna banget meskipun kadang ketiduran karena cape haha :(

Mungkin pengalaman yang lebih rinci akan saya taruh di artikel selanjutnya. Sebagai penutup, tentu saya akhiri dengan jawaban pertanyaan di atas tadi. Harus saya akui saya tidak ingin menyatu dengan lingkup siklus profesionalitas kedokteran yang menjadi bayang-bayang mahasiswa pada umumnya yaitu dimulai dari kerja keras, lalu dengan sabar menempuh pendidikan, yang kemudian pada akhirnya sampailah pada klimaks yaitu tenang mengabdi dan sejahtera. Namun yang saya sadari adalah jauh lebih daripada itu, ada antiklimaks di situ bahwa di ujung hayat semua orang akan mati. Bahkan dalam tingkat klimaks tersebut, saya ragu hanya mampu memenuhi kebutuhan saya sendiri dan tuntutan sosial sebagai seorang dokter sebagaimana yang saya ketahui bahwa dokter sekarang bukan lagi hanya profesi melainkan jenis kelas sosial baru. Maka dari itu, izinkanlah saya mencari jati diri, biarkan saya menyatakan diri dan menghidupi eksistensi berdasarkan keputusan yang saya ambil. Jadi apabila ditanya ingin menjadi dokter atau menjadi guru tentu akan saya jawab saya hanya ingin menjadi manusia bebas dengan kehidupan otentik yang tidak dikekang oleh batasan-batasan sosial yang disebut seorang ini dan seorang itu.

cc: Fathul Purnomo

Remain faithful to the earth with the power of your virtue. Thus spoke Zarathustra. Universitas Indonesia, Medical Doctor.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store