Catatan Harian 29 Oktober 2020

Menteng, 29 Oktober 2020

Sangat disayangkan aku mengenal Nietzsche di tahun terakhir kuliah. Kalau seandainya ada orang bertanya apa hal yang paling aku sesalkan di kuliah adalah aku tidak mengenal ia lebih awal. Tapi tidak masalah, kalau kata Nietzsche, “Amor fati.” Cintailah takdir dan masa lalumu, jangan ada penyesalan sama sekali and let us move forward. Mungkin ini adalah skenario semesta untuk membuat awal dari masa post graduate-ku lebih fresh sehingga ungkapan fresh graduate nyata termanifestasi tidak sekedar ungkapan. Ahahaha. Dari sekian filsuf yang kuketahui dari zaman Yunani kuno hingga modern aku menomorsatukan Nietzsche sebagai representasi the real philosopher. Jika ditanya keduanya aku jawab Foucault yang mengimplementasikan gaya filsafat Nietzsche dan ketiganya mungkin Diogenes, sama seperti Alexander The Great yang berkata, “Apabila aku tidak dilahirkan sebagai Alexander The Great, maka aku ingin menjadi Diogenes.”

Ada satu hal yang menjadi poin mengapa aku mengagumi Nietzsche. Pertama adalah ia menekankan etika sebagai penelusuran paling luhur yang perlu dilakukan oleh manusia dalam hidup. Pemikirannya seperti Eternal Recurrence, Apollonian-Dionysian force, dan the Will to Power adalah semuanya bertumpu pada pertanyaan bagaimana seharusnya manusia hidup di muka bumi? Nilai-nilai apa yang perlu dijadikan acuan untuk hidup dan memutuskan pilihan dalam hidup? Apakah nilai-nilai itu bersifat produktif dan afirmatif terhadap kehidupan atau sebaliknya bersifat reaktif dan nihilistik, merendahkan kehidupan itu sendiri? Itu semua adalah kunci dari bagaimana seseorang berfilsafat. Filsafat harus ditransformasikan menjadi gaya hidup, apabila tidak akan menjadi sia-sia, maka tidaklah perlu seseorang itu berfilsafat.

Ia juga dikategorikan sebagai bapak eksistensialis. Setara dengan Kierkegaard sebagai bapak eksistensialis, yang membedakan hanya Kierkegaard adalah eksistensialis dibalut dengan komitmen teisme kristiani. Mengapa disebut dengan eksistensialis karena mereka adalah sekumpulan filsuf yang menekankan individu sebagai titik tolak dari berfilsafat. Seorang individu yang memiliki faktisitas atau keterlemparan hidup di dunia dan memiliki jalan hidup yang berbeda-beda pula membuat penelusuran filsafat perlu didasari pada hal-hal yang konkret pada masing-masing individu dan tidak mengeneralisir seluruh umat manusia menjadi kesatuan yang utuh. Itulah yang menjadi karakteristik filsafat eksistensialis bisa diimplementasikan oleh para individu yang berfilsafat. Seperti halnya Sartre dan Beauvoir menjadi segerombolan filsuf terkenal dikarenakan mereka berfilsafat dengan cara yang konkret dicontohkan dengan bagaimana mereka hidup dan mengambil keputusan sehari-hari.

Sore sampai malam ini aku bertemu Putra. Ia adalah sahabatku dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Dulu bertemu saat kegiatan Compfest saat dia menjalani startup-nya bernama Ada Teman dan Mentoria. Di situ aku datang padanya untuk menjelaskan niatku yang juga akan membangun startup. Alhasil dengan pertemuanku dgn ia di situ akhirnya kita menjadi partner dalam startup. Kita juga sempat ngontrak satu rumah bareng bersama tim kita masing-masing untuk mengembangkan produk masing-masing. Ia adalah salah satu mahasiswa yang handal dalam ranah entrepreneurship, wajar ia dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi kategori wirausaha oleh FEB UI. Aku turut bangga dengan pencapaiannya. Kita sudah beberapa minggu tidak bertemu, sekarang bertemu tepat saat sudah wisuda. Aku dari kosan naik MRT ke Cipete selama 15 menit dan di situ Putra menjemputku pakai motornya. Dari MRT Cipete menuju Kafe Dua.

Di kafe kita cerita panjang lebar tentang rencana pasca kampus kita masing-masing. Membahas isu-isu lain juga seperti apakah China economic reform apakah bisa diterapkan di Indonesia? Bagaimana China digital transformation bisa mengakselerasi dari China yang awalnya disebut sebagai copycat country menjadi leading digital innovator? Kita sharing bagaimana kuatnya intervensi pemerintah China dalam mendukung ekosistem digital di sana, seperti halnya pembentukan 8000 inkubator startup secara serentak merupakan gambaran bahwa China sebagai negara dengan sistem parsial komunis yang bersifat otoritarian dan tersentralisasi bisa sangat komplementer dengan sistem open market yang justru secara bertolak belakang bersifat kapitalistik. Kami cukup pesimis dengan kemampuan Indonesia dalam mengimbangi China dalam urusan memanfaatkan potensi negara yang akan menjadi emerging market. Tetap kita optimis dalam hal inovasi ke depan yang akan kita jalani.

Lalu juga membahas soal bagaimana pandangan quantitative easing atau usaha intervensi pemerintah menginjeksi dana ke masyarakat di masa pandemi dan bagaimana praktik ini dijelaskan dari sudut pandang ekonomi Keynesian, juga bagaimana Neoclassical seperti halnya Friedrich Hayek justru membantah mengatakan intervensi ekonomi oleh pemerintah semisal praktik QE justru bisa mempengaruhi secara negatif pertumbuhan long-term dari ekonomi. Kenapa pembicaraan jadi fokus ke ekonomi karena Putra baru beli buku The Wealth of Nation karya Adam Smith. Ia bilang bacanya masih belum kelar, tetapi sudah ada beberapa poin yang ia sudah coba jabarkan.

Buku ini adalah buku klasik dan suatu saat aku juga akan membacanya. Aku bilang ke Putra kalau nanti aku mau pinjam bukunya. Jadi ingat waktu membaca biografi Einstein sehabis lulus dari kuliah ia membentuk Olympia Academy yaitu grup berjumlah 3 orang yang berfokus untuk membahas topik filsafat dan sains secara serius disertai pembacaan literatur klasik seperti buku An Enquiry Concerning Human Understanding oleh David Hume, Critique of Pure Reason oleh Kant, dan magnum opus Spinoza berjudul Ethics. Menurutku memang setelah masa kuliah ini aku harus banyak mencari teman-teman yang bisa diajak diskusi lebih intens dibanding saat aku di masa kuliah.

Sesudah dari kafe lanjut makan di daerah Cipete. Kata Putra ada sate kambing dan tongseng enak di dekat situ. Akhirnya kita ke situ makan baru balik ke Menteng. Syukurnya dia mau mengantarku sampai ke kosan pakai motor. Di tengah jalan hujan deras. Terpaksa berhenti pakai jas hujan di Jalan Sudirman. Aku tidak pernah bosan lewat Jalan Sudirman. Banyak sekali gedung di situ dan aku benar-benar menikmati setiap detik dari perjalanan lewat Sudirman. Wajar sekali jalan besar ini dinamakan Sudirman karena jasa Panglima Besar Jenderal Sudirman yang berani mengkonfrontasi Belanda terutama saat terjadinya agresi militer oleh Belanda, ia berani melakukan gerilya meskipun kondisi beliau sedang sakit, bahkan salah satu parunya mengalami kerusakan akibat perang. Suatu saat aku ingin membuat gedung di Jalan Sudirman kelak.

Remain faithful to the earth with the power of your virtue. Thus spoke Zarathustra. Universitas Indonesia, Medical Doctor.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store