Catatan Harian 27 Oktober 2020

Menteng, 27 Oktober 2020

Kemarin aku menjalani kegiatan operasi di ruang OK Onkologi. Prosedurnya pengangkatan payudara berupa modified radical mastectomy. Pengangkatan payudara radikal harusnya diangkat hingga otot yang mendasari payudara yaitu otot pektoralis minor dan mayor. Namun pada modifikasinya tidak perlu diangkat karena dalam penelitian otot tersebut tidak terlibat dalam sebagian metastasis payudara. Operasi berjalan sekitar 5 jam, dari jam 8 hingga jam 1 siang. Sebenarnya mahasiswa koas tidak tahu jadwal operasi tiap harinya, jadi di hari H tersebut aku bersama dengan Kak Farrel terlebih dahulu ke URJT (unit rawat jalan terpadu) Onkologi. Di situ bertemu dr.Sinta PPDS Onko yang berjaga. Beliau bilang hari ini jam 8 Onko ada operasi. Ia bilang langsung saja ke sana menghubungi dr.Arga dan dr.Oyon. Akhirnya kami ganti baju di ruang ganti OK Pusat lalu masuk ke Ruang OK 3.

Pas masuk operasi sedang berlangsung, aku dengan Kak Farrel disuruh santai dulu mengobservasi operasi. Kami kadang mendekat di meja operasi secara langsung melihat, atau di bagian belakang melihat lewat TV. Kalau lewat TV bisa sambil duduk dan kami lebih lama di situ. Kami harus menunggu sampai akhir karena bagian yg akan aku dan Kak Farrel lakukan adalah suturing atau menjahit. Pas duduk mengobservasi kami tepat di samping PPDS Anestesi (dokter yang bertugas membius pasien supaya tidak sadar dalam proses operasi). Dokter anestesi tersebut bilang berbisik kepada kami kalau jahitnya jangan lama-lama. Ahaha mungkin dokternya berpengalaman kalau ada koas, jahit pasien pasti relatif lebih lama karena selain menjahit, pasti juga akan ditanya-tanya sekaligus diedukasi oleh dokter bedah penanggung jawab pasien.

Sebelum menjahit ada kejadian lucu. Jadi kami disuruh cuci tangan steril sebelum pakai gown bedah. Di situ aku dan Kak Farrel cuci tangan bedah sampai ke siku, setelah itu kami melihat ada tissue di samping tempat cuci tangan sontak mengambil tissue dan mengeringkan tangan kami. Tangan sudah kering langsung memasuki Ruang OK lagi. Pas masuk perawat OK menyahut kepada kami bilang, “Haloo tangannya angkat ke atas jangan lupa..!” Aku dan Kak Farrel lupa, lalu mengangkat tangan kami sampai sejajar dada. Begitu diangkat kami segera menuju ke gown yang disiapkan.

Lalu perawat menyodorkan kassa steril kepada kami, “Ini keringin dulu tangannya.” Aku dan Kak Farrel kaget soalnya sudah ngeringin tangan pas di tempat cuci tangan. Terus perawatnya sontak tertawa bilang, “Loh kok tangan kamu kering. Hahaha yaampun dokter kok keringin tangan di situ, ayo ulang lagi tangan masuk ke OK wajib steril, nanti dikeringin di ruang OK.” Otomatis semua di ruang OK tertawa melihat keluguan kami. Dokter Arga selaku PPDS Bedah Onkologi menyuruh kami meragakan ulang bagaimana mencuci tangan. Sehabis itu akhirnya kami dituntun ulang oleh perawat cuci tangan sampai memakai gown dengan benar. Ahaha hadeuu ada-ada saja memang. Kemarin harusnya sudah disosialisasikan tata cara masuk ke ruang bedah beserta detail lainnya. Maklum kegiatannya dilakukan online sehingga entah bagaimana mungkin kami terlewat.

Kegiatan menjahitnya lancar. Aku dan Kak Farrel melakukan masing-masing 4 jahitan, jadi total 8 jahitan. Dokter Arga sebagai pengawas amat baik kepada kami dan menuntun semua proses penjahitan. Ia memperagakan banyak teknik kepada kami. Ia juga bercerita banyak hal. Yang paling mengena kepadaku adalah saat Dokter Arga menekankan pentingnya menjahit sempurna. Ia berkata, “Apa filosofi menjahit? Kenapa menjahit harus sempurna?”, ia meneruskan “Kalian liat kan tadi bagaimana proses mastektomi? Prosesnya ribet, insisi sana sini, darah kemana-mana, dst.” Di situ aku mengangguk saat melihat proses mastektomi betapa chaos-nya pembedahan pengangkatan payudara tersebut. Dr. Arga melanjutkan, “Tapi apa? Pasien ga melihat semua proses dari ribetnya mastektomi. Pasien hanya melihat hasil dari jahitan kita. Itu filosofinya kenapa jahit perlu sebaik mungkin. Seruwet apapun proses yang tadi kita lakukan dalam pembedahan, itu semua tidak masalah. Yang penting ketika menjahit hasilnya baik. Di situ pasien senang.”

Ia mengaitkannya dengan kehidupan dan berkata, “Seperti juga dalam hidup. Sebanyak apapun masalah yang kita punya. Gak perlu diperlihatkan lewat ekspresi. Seperti juga ketika bedah mungkin akhirnya capek dan lelah, sampai rumah jangan diperlihatkan. Begitu juga masalah di rumah jangan dibawa dan diperlihatkan ke sini.” Setelah kegiatan OK selesai, aku langsung pulang ke kosan dan tepar banget. Lanjut lagi diskusi jam 4–6 sore. Tidur lebih awal jam 9-an. Sepertinya aku sedang tidak enak badan, namun begitu bangun pagi sebelum berangkat jam 6 aku sudah fit dan siap kembali ke RSCM untuk menjalani praktikum eksisi lipoma bersama dr. Ahmad Kurnia.

Kami menuju lantai 4 Gedung A Departemen Bedah FKUI-RSCM untuk bertemu beliau. Kata orang-orang dr. Kurnia orangnya baik. Tapi siap-siap saja berceramah dan jangan lupa siapkan Al-quran digital karena beliau religius. Ternyata benar. Kita sekitar 7 kali disuruh buka Al-quran membacakan surat yang ia kutip. Beliau banyak berceramah tentang bagaimana Al-quran sudah menjelaskan banyak ilmu kedokteran modern. Entah bagaimana respon teman-teman yang lain karena ia cenderung vulgar dalam berbicara tentang payudara & wanita, tapi aku memaklumi kekurangan tersebut. Di sisi lain aku pribadi cukup kagum pada kemampuan beliau dalam menyangkut-pautkan kitab suci dengan ilmu kedokteran.

Pada dasarnya aku sepakat apabila sebagian ilmu medis modern sudah ditemukan pada zaman dahulu seperti pada ditulis di kitab suci. Bahkan pada mitos pun juga sudah banyak dijelaskan. Seperti yang aku baca pada introduksi Buku Robin’s Pathology, di situ dijelaskan bahwa pengetahuan kedokteran modern mengenai kemampuan regenerasi hati telah dijelaskan pada mitos Yunani 2400 tahun yang lalu yaitu pada kisah Prometheus. Prometheus adalah dewa yang mencuri api di kuil Zeus untuk tujuan dibawa ke bumi untuk menghidupi manusia, sayangnya api tersebut dilarang untuk dibawa keluar kuil.

Prometheus tetap nekat melakukannya dan alhasil mendapat hukuman dari Zeus. Ia dihukum pada perutnya akan dipatuk oleh Elang sampai habis, lalu pada malam hari hati tersebut akan ditumbuhkan kembali oleh Zeus sehingga besoknya Elang akan datang untuk mematuknya lagi sampai habis dan akan terjadi begitu seterusnya. Dari mitos tersebut kita bisa memperoleh gambaran bahwa orang zaman dahulu mengetahui bahwa hati memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi bahkan sebelum ilmu kedokteran modern pasca abad ke-17 memahami kemampuan regenerasi hati yang fantastis.

Kemudian dr. Ahmad Kurnia bertanya kepada kami, “Ketika kamu menjadi dokter menjahit luka pasien, saya mau tanya…. Siapa yang menyembuhkan luka pasien? Apakah dokter menyembuhkan luka itu?” Di situ karena aku sudah berkali-kali sempat mendengar ceramah tentang ini aku menjawab, “Tidak, Dok. Dokter berikhtiar.” Ia membalas, “Ya. Jika kamu merasa menyembuhkan sekarang saya tanya balik. Siapa yang menutup luka pasien? Siapa yang melakukan primary healing pada pasien? Siapa yang melakukan regenerasi epitel kulit pasien? Itu semua sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah SWT. Dan ia yang menyembuhkan luka pada pasien yang kita jahit.” Dan ceramah masih terus berlanjut~

Remain faithful to the earth with the power of your virtue. Thus spoke Zarathustra. Universitas Indonesia, Medical Doctor.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store