Catatan Harian 25 Oktober 2020

Menteng, 25 Oktober 2020

Kemarin abis jadi narasumber Medforce FKUI nemenin Iskandar buat ngasih informasi seputar GMICA (olimpiade anatomi) ke adik tingkat. Aku awalnya nolak karena mager banget ngisi begituan. Cuma Iskandar mengajakku bilang dia malu-malu kalau sendiri dan aku diajak seengganya buat meramaikan karena dia canggung kalau sendiri. Akhirnya aku join via Zoom karena kebetulan aku juga lagi kosong. Itung-itung sharing ngasih pengalaman olim ke anak-anak FKUI. Sehabis acara, panitia bernama Nabila Medforce meminta nama panjangku dan sekiranya mau memberikan no rekeningku juga. Aku bilang ke Nabila sebagai panitia kalau pemberian dananya tidak perlu, namun untuk sertifikat aku tetap terima. Ia lalu berterima kasih dan akupun menutup chat pembicaraan.

Aku cukup menikmati karena di situ aku bisa bicara bebas mengutarakan pengalaman yg sudah aku jalani dan menceritakan alasan kenapa aku ikut olim di saat kuliah. Ada Saski juga yg ngisi jd pembicara olimpiade fisiologi IMPhO-IMSPQ, walaupun aku delegasi di olim tersebut tapi aku mewakili bagian GMICA bareng Iskandar. Di situ aku sharing bahwa tujuanku ikut olimpiade anatomi dan fisiologi di masa kuliah yaitu dikarenakan ilmu kedokteran sendiri adalah sama dengan (=) fisiologi dan anatomi, jauh sebelum ilmu kedokteran modern lahir.

Maksud dari ucapan itu adalah cabang ilmu kedokteran modern seperti patologi, imunologi, mikrobiologi, dan seterusnya baru muncul di abad pasca Renaissance (abad ke-16 dan ke-17) bersamaan dengan lahirnya Germ Theory of Disease yaitu teori yang menyatakan bahwa penyebab dari suatu penyakit bisa disebabkan karena serangan mikroorganisme (germs) seperti bakteri dan virus. Sebelum lahirnya teori tersebut semua dokter berpikir bahwa hanya ada dua penyebab yang mendasari timbulnya penyakit. Pertama yaitu karena adanya kerusakan struktur tubuh akibat trauma (kerusakan anatomis) dan kedua adalah ketidakseimbangan dari cairan dalam tubuh (kelainan fisiologis).

Teori yang terakhir dinamakan dengan Humoral Theory of Disease yang pertama kali dijelaskan oleh bapak kedokteran di masa Yunani bernama Hippocrates dan dikembangkan oleh Galen Pergamon sang dokter Colosseum di masa Romawi. Teori ini menyatakan bahwa ada 4 jenis cairan dalam tubuh yaitu black bile, yellow bile, phlegm, dan blood (darah). Keempat cairan tersebut berperan dalam keseimbangan fisiologis tubuh, dimana penyakit dalam tubuh akan timbul apabila satu dari empat cairan (humour) tersebut mengalami ketidakseimbangan. Aku bilang kepada mereka bahwa sebelum masa modern, tahu anatomi dan fisiologi saja sudah bisa mengobati penyakit pada pasien. Jadi dengan ikut olim di fisiologi dan anatomi akan memperkuat pengetahuan fundamental untuk menjadi dokter yang tangguh.

Aku sempat menjadi 4 delegasi di FKUI pada cabang anatomi dan fisiologi. Aku tidak mendaftar olimpiade IMO dan SIMPIC karena menurutku aku tidak berniat untuk fokus olimpiade di perkuliahan. Aku berprinsip seperti di awal bahwa di kedokteran aku harus menguasai ilmu fundamental anatomi dan fisiologi. Hanya itu. Dengan begitu aku bisa berlanglang buana mengeksplorasi banyak hal di perkuliahan tanpa kerepotan mengejar akademik seandainya terlampau ketinggalan.

Menurutku menimbang terhadap apa yg sudah kucapai dalam prestasi akademis sejujurnya sudah memuaskan. Hal tersebut karena relatif pada SMA tak satupun hal prestasi yang bisa aku peroleh karena memang saat SMA aku hanya fokus bermain game dan sempat mengikuti beberapa kompetisi DotA bersama teman-teman. Bahkan sering 14 jam sehari dan sering menginap di warnet. Jadi menurutku di perkuliahan anggap saja fase ini adalah fase starting point-ku dalam berprestasi dan mengembangkan cita-cita. Tetap, masih banyak sekali kekurangan selama perjalananku di perkuliahan preklinik kedokteran.

Aku yakin kehidupan pasca wisuda nanti, aku bisa memperbaiki kekuranganku terutama yang aku highlight adalah supaya aku lebih tegas dalam mengambil keputusan. Karena aku merasa di UI terlalu banyak hal yang menggangguku terutama perkara konformitas. Bagaimana orang-orang sekitarku banyak yang tidak punya prinsip dan menerima saran dari orang-orang sekitar, kating, dokter, ataupun sejawat angkatan yang padahal semua saran-saran maupun isi dari nasihatnya sama sekali tidak relevan di masa sekarang, apalagi khususnya untuk kehidupanku pribadi.

Aku kaget ketika chatting dengan teman SMA. Namanya Dita. Dia bilang cara aku chatting sekarang beda dengan masa SMA, begitu pula kehadiranku di Sosmed (IG). Dia bilang aku sudah tidak seperti dulu yang cenderung konfrontir, gak tau malu, dan blak-blakan. Itu semua positif katanya, sudah ada perbaikan dalam diriku. Justru aku kaget dengan pernyataan dia, sebenarnya aku menyadari hal ini. Aku merasa perubahanku ini bukan karena aku menginginkan sifatku yang menjadi seperti ini. Tapi ini semua karena terpaksa. Aku masuk dlm lingkungan yang strict dan terlalu banyak hal-hal berbau profesionalitas dan disiplin yang sering dijadikan persoalan. Aku ingat betapa kagetnya pertama masuk kuliah dan menjalani mabim yang membutuhkan disiplin dan segala tetek-bengeknya. Aku syukurnya bisa menyesuaikan.

Di SMA aku benar-benar santai. Sering disuruh keluar kelas karena membuat onar oleh gurupun aku keluar, malah di luar tertawa cengengesan bareng temen. Pulang sekolah seringnya langsung ke warnet bersama Fadel. Fadel gabawa kendaraan pas SMA, jadi sering aku ajak pulang bareng, tapi mampir dulu ke warnet. Atau engga mampir sekaligus nginep di Faris, salah satu tim kita kalau bermain DotA. Beberapa minggu terakhir sempat chatting bertiga untuk bermain DotA lagi kalau ada waktu, tapi masih belum terealisasi karena aku pribadipun sangat disibukan dengan kegiatan koas.

Kalau di Gedung Alcent Cisangkuy saat apel pagi, sering beberapa kali ke atap sekolah supaya gaikut apel dan aku tidak gentar sama sekali. Terlambat sekolah adalah kebiasaan. Sering diberikan wejangan supaya tidak telat, aku malah senyum-senyum sendiri karena menurutku aku terlambat adalah cerminan bahwa aku tidak suka diatur. Biarlah aku berkali-kali dapat teguran yang penting aku menjalani apa yang aku inginkan. Tidak heran aku dapet nilai C di PKN. Guru PKN waktu kelas 2 aku sangat ingat, ia sepertinya benci padaku. Aku sih masa bodo. Kalau PKN C gabisa naik kelas. Aku dapet C di kelas beliau. Syukurnya wali kelasku Pak Rahmat sangat baik mempertemukanku dengan beliau untuk negosiasi. Kadang aku merasa kelampau batas juga, jadi kadang aku minta maaf ke Pak Rahmat. Aku sungguh menghormati beliau.

Guru-guru seperti Bu Yuyun, Pak Agus MTK (aku memanggilnya Agus Sensei sama teman-teman gara-gara film Great Teacher Onizuka tenar, aku suruh beliau nonton dan beliau akhirnya nonton film itu yang kata beliau ternyata biasa saja), kemudian juga Pak Risdi, dan beberapa guru lainnya pun sangat aku hormati. Jadi ingat Pak Risdi waktu salaman di acara perpisahan beliau memelukku secara spontan karena aku yakin walaupun di kelas Fisika aku suka buat ulah dan memotong perkataan guru, beliau mengerti aku masih tau batasan.

Beliau mungkin bangga karena aku keterima di FK sekaligus melihat bagaimana komitmenku di masa-masa terakhir SMA. Kadang di malam hari saat aku belajar bersama Pa Ang di SSC Adipati Kertabumi, ia datang untuk silaturahmi dengan Pa Ang dan melihatku belajar di malam suntuk. Bu Yuyun adalah wali kelas yang paling spesial. Betapapun aku membuat ulah kadang sampai membuat ia menangis karena aku (dan teman-teman) membuat ulah mengusili Rizky, Bu Yuyun tetap mendukungku apabila aku didapati masalah. Ketika aku membuat ulah ia terkadang mengingatkan tentang cita-citaku yang mau masuk ke Massachuset Institute of Technology. Di situ aku sedikit haru dan mencoba memperbaiki sikapku meskipun besoknya (atau lusanya) aku berulah lagi.

Di SMA entah mengapa banyak guru yang kutemui sangat berkesan terutama Pa Ang. Aku bangga bisa menjadi satu almamater dengan beliau, beliau alumni Fisika UI. Menjelaskan Pa Ang mungkin akan aku lakukan di tulisan terpisah karena beliau yang membuat aku dari gamer menjadi mahasiswa kedokteran. Aku menganggap petemuanku dengan beliau sebagai Big Turn, perubahan drastis dari Naen as a gamer menjadi Naen as a medical student. Berbeda dengan kuliah, aku tidak menemui dosen yang menginspirasi. Mungkin karena aku jarang ikut lecture? Tapi sepertinya tidak juga karena di kelas-kelas kegiatan lain selalu bertemu dengan dosen. Itu juga yang membuatku ikut Gerakan UI Mengajar menjadi guru karena menurutku guru yang hebat sekaligus menginspirasi jumlahnya sudah kian menyusut.

Guru sangat berpengaruh pada perkembanganku di SMA, begitu pula aku yakini pada sebagian murid lain di penjuru Nusantara. Di masa depan menjadi apapun nantinya, aku ingin juga mengajar. Karena dari mengajar aku belajar menginspirasi kepada orang-orang, termasuk pada calon-calon penerus bangsa. Seperti HOS Cokroaminoto yang bisa menjadi guru pada Soekarno, Kartosuwiryo, dan Semaoen. Tjokro adalah archetype bagaimana guru yang menginspirasi bisa melahirkan murid berjiwa pejuang seperti ketiga tokoh di atas. Ketiganya adalah emas penerus bangsa yang memiliki cara masing-masing dalam perjuangannya.

Guru yang hebat melahirkan orang-orang yang hebat. Aku yakin dengan ini. Indonesia jika mau berubah harus banyak mencetak guru-guru bukan hanya hebat tetapi juga mampu menginspirasi. Itu alasannya aku sempatkan mengikuti kegiatan Medforce FKUI meskipun di hari Sabtu weekend. Bahkan aku sebagai calon dokter harus paham bahwa Cicero pada buku De Oratore-nya menyebut kata docere (asal muasal kata dokter) pada seorang dokter di masa itu karena docere berarti to lead and to teach, seorang dokter adalah seorang yang mampu mengajari dan mengarahkan. Seperti halnya berdialog, memberikan informasi, sekaligus mengedukasi pasien juga bisa dianalogikan bertindak sebagai guru pada murid yaitu sebagaimana dokter mengedukasi pasien dalam pemberian tatalaksana. Hal ini perlu dikembangkan para calon dokter seiring perjalanannya di sekolah kedokteran termasuk diriku.

Remain faithful to the earth with the power of your virtue. Thus spoke Zarathustra. Universitas Indonesia, Medical Doctor.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store