Catatan Harian 13 Oktober 2020

Menteng, 13 Oktober 2020

Sore ini aku sengaja kosongkan semua kegiatan, aku cuma ingin diam di loteng sambil mencoba mendengar dari sini apakah suara demo UU Omnibus Law oleh para ormas terdengar seperti kemarin. Di waktu yang sama Sani tiba-tiba nge-WA bertanya apakah aku kosong. Aku jawab kosong dan akhirnya kita video call-an. Pas video call dia bilang padaku tumben gabut di loteng. Aku iseng jawab bahwa di abad 21 bakal banyak spesies yang punah. Salah satunya manusia santuy. Hahaha. Aku bilang begitu karena aku sendiri merasa sungguh yang aku lihat akhir-akhir ini semua berpikir ke depan tanpa pandang bulu membahas skenario sama sekali terhadap perjuangan apapun, termasuk perjuangan pada keadilan sosial. Ga heran makin kesini makin banyak problematika sosial yang menurutku sebenarnya simply ini semua karena orang-orang gak sabaran take a moment buat bahas ini semua.

Aku di sini cuma diam, kadang-kadang memperhatikan gedung besar UOB depan kosan berpikir apa yg sedang dilakukan oleh para kapitalis sekarang. Yang menarik di loteng ternyata kalau diperhatikan banyak sekali burung-burung terbang kesana-kemari, aku kira semakin ke tengah kota bakal sedikit sekali jumlah burung, tapi nyatanya di depanku ada sekitar 6-an burung sedang berkicau di atas atap tetangga. Pasti burung-burung itu tidak membahas Omnibus Law yang sedang disuarakan tepat 2 km dari sini. Sama seperti orang-orang yg sedang ngerumpi di bawahnya, tak lain sibuk membahas problematika keseharian. Itu saja memang sudah membuat setiap orang disibukan.

Sehabis baca buku Life 3.0 pikiranku semakin rumit. Di buku itu bukan membahas masa depan yang jangka waktunya 5, 10, 20 atau mentok-mentok 2045 seperti yang dibahas oleh para politisi dan ekonom. Justru premisnya memberi jarak pembahasan di jangka waktu 10.000 tahun pasca abad 21. Wow! Aku semakin berpikir apakah semua perjuangan yg kita lakukan sekarang ini ada dampaknya di 10.000 tahun mendatang? Katakanlah semua yang memperjuangkan Omnibus Law terkait usaha menuntun keadilan sosial apakah ini akan terus berlanjut di abad 22 nanti? Mungkin memang pikiranku yg terlalu filosofis sampai-sampai terkadang aku mau tidak mau terhenti melakukan semua kegiatanku karena mendadak melankolis merenungkan semua terhadap apa yg aku perbuat.

Menariknya lagi di buku itu memberikan salah satu pertanyaan eksistensial bagaimana jika di abad 21 Artificial Intelligence mengambil alih skenario peradaban manusia? Apakah AI masih memikirkan nasib kesejahteraan sosial atau jangan-jangan poin ini akan menjadi hal trivial atau remeh yang nantinya dibasmi mentah-mentah sampai tidak lagi ada yang namanya problem kesejahteraan sosial bahkan umat manusia itu sendiri. Poin ini juga menjadi pertanyaan Elon Musk yg membuat OpenAI supaya agenda kita menuju Mars tidak dihalangi oleh perkembangan AI yang secara misleading meluluh lantahkan aktivitas manusia di bumi. Di sisi lain jangan-jangan perkembangan teknologi eksponensial ini menjadi jawaban atas antitesis dari mandeknya idealisme sekelompok orang pada masa demi masa yang sama sekali tak mampu melancarkan kuasa untuk melakukan perubahan yang bersifat sistemik dan sustainable? AI bisa menjadi solusi radikal, tapi ini sangat gambling karena lihat saja Silicon Valley dgn segala powernya justru antipati terhadap pergumulan soal2 sosial.

Menurutku pertanyaan terakhir ini perlu dijadikan premis dan dibahas habis-habisan. Niatku yang awalnya ingin mencoba terjun untuk memahami bagaimana kekuasaan dan perpolitikan di Indonesia berjalan makin diruntuhkan dgn apa-apa yg aku temui di buku ini, termasuk buku-buku lain yang membahas perihal teknologi. Termasuk apa yang aku baca soal prinsip kuasa berjalan di era modern oleh tokoh2 postmodernist seperti Foucault.

Pergeseran praktik kekuasaan yang dijabarkan oleh Foucault dalam buku Discipline and Punish membuatku makin sadar bahwa resistensi terhadap penyelewengan sudah semakin sulit dan perlu idealisme yang tinggi. Kegiatan berupa demonstrasi ini semakin tidak ada gunanya jika kita tidak mau juga melakukan resistensi pada hal-hal yang sifatnya lokal seperti bagaimana praktik kekuasaan itu berjalan pada aturan-aturan di universitas dan di institusi-institusi yang ada. Usaha resistensi dan perlawanan terhadap kekuasaan melalui jalan demonstrasi terlihat seperti sikap yang reaktif tidak disertai strategi jangka panjang. Wajar jika sesekali di timeline aku lihat banyak yg memberi tahu bahwa semua aktivis 98 adalah yang sekarang menduduki kursi DPR dan dianggap masuk dlm golongan rezim yg sewenang-wenang. Mungkin dalam bbrp minggu ini aku akan coba buat artikel terkait ini supaya orang-orang setidaknya memahami apa yg aku pikirkan.

Remain faithful to the earth with the power of your virtue. Thus spoke Zarathustra. Universitas Indonesia, Medical Doctor.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store